Jadilah si Serba Bisa (part 2)

4 06 2009

http://www.tabloidnova.com/Nova2/Karier/Pengembangan-Diri/Jadilah-si-Serba-Bisa!-2

Perlukah Asisten Pribadi?
Banyak orang mungkin menganggap, akan membuang uang saja bila harus benar-benar punya asisten pribadi. Atau, bisa juga Anda akan berpikir, “Ah, seperti artis saja punya asisten segala!”
Tenang dulu, asisten yang dimaksudkan bukanlah layaknya seorang asisten manajer yang harus lulusan S-1 dan bergaji besar. Asisten adalah orang kepercayaan yang bisa Anda andalkan untuk membantu pekerjaan harian, baik di rumah maupun di luar rumah.
Bila Anda mempunyai sopir atau pembantu rumah tangga, jangan jadikan mereka sekadar pekerja saja. Ajarkan dan didik perlahan-lahan sehingga mereka bisa dipercaya dan diandalkan. Misalnya, jadikan sopir Anda sebagai penjemput tetap anak-anak ke dan dari sekolah, les, atau aktivitas lainnya.

Ilustrasi (Foto: Adrianus Adrianto/NOVA)

Begitu pula dengan pembantu rumah tangga. Buatlah daftar rutinitas yang menjadi kewajibannya setiap hari di rumah. Buatlah menu harian yang mesti ia buat untuk keluarga, atau apa saja yang perlu ia siapkan agar pulang ke rumah, Anda tinggal menghangatkan masakan saja. Read the rest of this entry »





Jadilah si Serba Bisa (part 1)

4 06 2009

Artikel Tabloid Nova, edisi 1 Juni 09 oleh Afra Mayriani http://www.tabloidnova.com/Nova2/Karier/Pengembangan-Diri/Jadilah-si-Serba-Bisa-1

 

image from: inpirationonline.com

image from: inpirationonline.com

Sudah bukan zamannya peran wanita hanya terbatas pada urusan rumah tangga atau dapur saja. Kini peran wanita sudah semakin luas dan lebar. Tak sedikit wanita yang telah mulai merambah di setiap bidang pekerjaan. Bahkan, tak sedikit pula wanita yang telah berhasil mencapai posisi karier yang tak kalah dengan kaum Adam di bidangnya.

Namun, bukan berarti menjadi wanita yang pintar dan serba bisa di zaman ini, lantas bisa seenaknya bersikap. Meski sukses di karier, wanita tetap diciptakan sebagai ratu dalam rumah tangganya.

Wanita layaknya manajer yang dituntut dapat mengelola rumah tangga, juga anak-anak. Jadi, bukan berarti bila memiliki aktifitas luar rumah, lalu Anda berhak untuk meninggalkan keluarga, atau cuek dan masa bodoh dengan urusan rumah tangga.

Nah, simak sejumlah tips berikut yang dapat membantu Anda mengatur waktu agar menjadi wanita serba bisa di era super sibuk seperti saat ini: Read the rest of this entry »





Trik Hadapi Bawahan Bandel (part 2)

4 06 2009

image from: pro.corbis.com

image from: pro.corbis.com

3. Bicarakan Baik-Baik
Bila salah satu staf Anda mulai membandel dan malas-malasan datang ke kantor, banyak izin, sering mangkir dari tugas, ini merupakan lampu kuning bagi Anda. Pekerja yang memiliki pola karakter demikian adalah pekerja yang tak respek kepada Anda sebagai atasan dengan baik.

Tipe ini adalah tipe pekerja yang menggampangkan. Bisa saja, sosok ini adalah teman baik atau tipe orang yang merasa sudah dekat dan menganggap Anda adalah tipe Read the rest of this entry »





Trik Hadapi Bawahan Bandel (part 1)

4 06 2009

Artikel untuk tabloid Nova edisi May 09 oleh Afra Mayriani – http://www.tabloidnova.com/Nova2/Karier/Konflik-Kantor/Trik-Hadapi-Bawahan-Bandel-1

 

image from: procorbis.com

image from: procorbis.com

Sebagai atasan, Anda dituntut tak saja profesional menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi kewajiban di kantor. Namun, Anda juga harus memiliki integritas jiwa seorang pemimpin yang baik dan handal dalam mengatur tim di divisi Anda.

Mengatur orang banyak tentunya berbeda dengan mengatur diri sendiri dan pekerjaan yang menumpuk. Setiap orang memiliki karakternya sendiri-sendiri. Semua tipe orang pun tak bisa 100 persen sesuai dengan keinginan dan kemauan Anda, bukan?

Tentunya, dalam perjalanan karier Anda dalam memimpin sebuah tim kerja di sebuah perusahaan, kemungkinan besar akan menjumpai tipe-tipe pekerja yang bermacam-macam karakternya. Ada yang kurang menyenangkan, atau bahkan membawa pengaruh negatif bagi perkembangan lingkungan kerja di divisi Anda. Nah, berikut ada sejumlah kiat untuk mengatasi bawahan yang membandel!

1. Pantau Terus Pekerjaannya
Bila Anda memiliki bawahan yang dapat dikatakan “hangat-hangat tahi ayam” alias bekerja tidak penuh secara profesional, melainkan sesuai dengan mood-nya saja. Maka, Anda harus mengambil langkah secara cermat, tanpa diketahui olehnya secara terang-terangan.
Bagaimana caranya? Pantaulah terus pekerjaan dan kinerjanya setiap minggu. Beri ia tugas-tugas yang sedikit lebih menantang dibanding biasanya. Mungkin saja, aksi “hangat-hangat tahi ayam” yang dimilikinya dikarenakan tugas-tugas yang diberikan tak lagi menantang buatnya.
Dengan memantau kinerjanya secara mingguan, dengan memberikan tugas-tugas yang lebih penting, Anda bisa sekaligus memancingnya untuk mengeluarkan segala kemampuan positifnya yang mungkin saja terpendam.

2. Beri Motivasi
Motivasi diperlukan oleh semua orang, siapapun ia dan apapun pekerjaannya, dalam kehidupan ini. Manusia mana yang tak memerlukan motivasi? Motivasi bagaikan siraman air dingin yang dapat menyegarkan, sekaligus mengingatkan kembali akan tujuan hidup seseorang, dan hal itu bisa saja menjadi tujuan karier yang dicita-citakan.
Sebagai atasan, Anda dituntut untuk tidak saja cakap memimpin, tapi juga mau belajar bagaimana cara menciptakan suatu motivasi positif bagi setiap bawahan di tempat kerja. Banyak jalan bila Anda ingin meningkatkan motivasi seseorang agar kinerjanya meningkat.
Anda dapat mengajak satu tim kerja mengikuti seminar bersama, disertai acara outbond atau tantangan alam. Tujuannya, tak lain untuk menciptakan motivasi kerja baru bagi setiap bawahan yang mungkin saja sudah jenuh dengan rutinitas kerja harian.
Selain itu, Anda akan mendapat manfaat lain, yakni mempererat hubungan kerja di dalam suatu tim. Sehingga, tak ada gosip atau pembicaraan negatif, Anda adalah atasan yang buruk. Jadikan semua tim respek terhadap Anda, bukan karena takut saat Anda marah. Tetapi lebih kepada rasa menghargai, karena Anda temasuk tipe atasan yang baik dan selalu memikirkan bawahannya.

 

-am-





Happiness is in your hand…

13 02 2009


“Not what you have, but what you see; Not what you see, but what you choose; Not what seems fair, but what is true; Not what you dream, but what you do; Not what you take, but what you give; Not as you pray, but as you live. These are the things that mar or bless The sum of human happiness.” – unknown source
 

Mungkin seringnya kita sebagai manusia menjalani kehidupan ini, bukan berdasarkan apa yang pada dasarnya harus ditentukan oleh diri kita sendiri. Baik itu sebagai standar, strategi, ekspresi maupun yang terbaik yang dapat dirasakan oleh diri sendiri.

Begitu banyak hal yang kita jalani, baik disadari ataupun tidak disadari adalah ‘bukan’ diri kita sendiri. Kita berjalan berdasarkan apa yang orang lihat, apa yang pihak lain inginkan, hal yang berhubungan dengan pendapat orang lain. Dan lain sebagainya, yang begitu kita yakini bahwa apa yang orang lihat di kita, jika menurut mereka baik, maka baik lah untuk diri kita. Lalu, jika sudah demikian…diri kita layaknya ‘alien’ hidup yang berjalan, yang merasa dan mengalami kebahagiaan-kebahagiaan semu.

Kebahagiaan yang sejatinya, sebenar-benarnya bukanlah milik kita sepenuhnya. Tidak 100% apalagi 50%. Justru yang kebahagiaan yang kita jalani adalah milik orang-orang disekeliling kita yang begitu menentukan bagi diri kita sendiri.

Mungkin kita terlalu takut untuk berjuang dan memiliki kebahagiaan diri kita yang sejati. Takut akan pendapat, pandangan atau bahkan pikiran yang berujung pada perbuatan-perbuatan orang lain pada diri kita. Kita menjadi takut untuk berdiri dengan teguh di kaki kita sendiri. Semua hal yang kita lakukan berdasarkan topangan dari pandangan positif atau berdasarkan cemoohan atau pergunjingan yang keluar dari pihak-pihak lain.

Kebahagiaan sejatinya ada dalam diri kita sendiri. Jika bukan ada di tangan kita, siapa lagi yang paling mengetahui apa yang membuat kita bahagia. Bahagia adalah bersyukur…bukan meributkan apa yang sudah atau belum kita miliki. Kebahagiaan adalah bagaimana kita mengatur cara pandang kita terhadap apa yang telah kita miliki sekarang. Menjadikannya begitu berharga dan berarti.

Kebahagiaan, bukanlah apa impian-impianmu atau apa isi doa-doamu setiap malam kepada Yang ESA. Namun, beyond on those things…kebahagiaan adalah apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan impian-impian dalam kehidupan kita ini, yang terangkum dalam alunan indahnya sebuah doa yang disampaikan setiap malamnya…atau bahkan setiap nafas yang kita hembuskan.

Apa yang kita bisa beri, dari kekurangan yang kita miliki, sehingga membuat orang lain atau pihak lain begitu merasa dihargai, dihormati, disayangi, dan diperhatikan…menjadikan sesama merasa “ADA”.

Kebahagiaan bukan ditangan orang tua kita, bukan ditangan saudara kita, bukan ditangan sahabat kita, bukan ditangan anak kita, bukan ditangan suami atau istri kita. Kebahagiaan ada di tangan kita sendiri. Usaha untuk menyingkapi kebahagiaan sejati itulah yang memerlukan usaha cukup keras dan tidak mudah.

Maka, pada akhirnya pun semua kembali pada diri kita sendiri. Apakah kita sudah siap…sudah mantap…dan sudah pada waktu yang tepat untuk mengejar dan mengalami kebahagiaan diri sendiri…

Jangan berputus asa…bergerak maju, dan hiduplah pada jalan bahagia itu sendiri!

Semoga meng-inspirasi…

am-