“Not what you have, but what you see; Not what you see, but what you choose; Not what seems fair, but what is true; Not what you dream, but what you do; Not what you take, but what you give; Not as you pray, but as you live. These are the things that mar or bless The sum of human happiness.” – unknown source
Mungkin seringnya kita sebagai manusia menjalani kehidupan ini, bukan berdasarkan apa yang pada dasarnya harus ditentukan oleh diri kita sendiri. Baik itu sebagai standar, strategi, ekspresi maupun yang terbaik yang dapat dirasakan oleh diri sendiri.
Begitu banyak hal yang kita jalani, baik disadari ataupun tidak disadari adalah ‘bukan’ diri kita sendiri. Kita berjalan berdasarkan apa yang orang lihat, apa yang pihak lain inginkan, hal yang berhubungan dengan pendapat orang lain. Dan lain sebagainya, yang begitu kita yakini bahwa apa yang orang lihat di kita, jika menurut mereka baik, maka baik lah untuk diri kita. Lalu, jika sudah demikian…diri kita layaknya ‘alien’ hidup yang berjalan, yang merasa dan mengalami kebahagiaan-kebahagiaan semu.
Kebahagiaan yang sejatinya, sebenar-benarnya bukanlah milik kita sepenuhnya. Tidak 100% apalagi 50%. Justru yang kebahagiaan yang kita jalani adalah milik orang-orang disekeliling kita yang begitu menentukan bagi diri kita sendiri.
Mungkin kita terlalu takut untuk berjuang dan memiliki kebahagiaan diri kita yang sejati. Takut akan pendapat, pandangan atau bahkan pikiran yang berujung pada perbuatan-perbuatan orang lain pada diri kita. Kita menjadi takut untuk berdiri dengan teguh di kaki kita sendiri. Semua hal yang kita lakukan berdasarkan topangan dari pandangan positif atau berdasarkan cemoohan atau pergunjingan yang keluar dari pihak-pihak lain.
Kebahagiaan sejatinya ada dalam diri kita sendiri. Jika bukan ada di tangan kita, siapa lagi yang paling mengetahui apa yang membuat kita bahagia. Bahagia adalah bersyukur…bukan meributkan apa yang sudah atau belum kita miliki. Kebahagiaan adalah bagaimana kita mengatur cara pandang kita terhadap apa yang telah kita miliki sekarang. Menjadikannya begitu berharga dan berarti.
Kebahagiaan, bukanlah apa impian-impianmu atau apa isi doa-doamu setiap malam kepada Yang ESA. Namun, beyond on those things…kebahagiaan adalah apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan impian-impian dalam kehidupan kita ini, yang terangkum dalam alunan indahnya sebuah doa yang disampaikan setiap malamnya…atau bahkan setiap nafas yang kita hembuskan.
Apa yang kita bisa beri, dari kekurangan yang kita miliki, sehingga membuat orang lain atau pihak lain begitu merasa dihargai, dihormati, disayangi, dan diperhatikan…menjadikan sesama merasa “ADA”.
Kebahagiaan bukan ditangan orang tua kita, bukan ditangan saudara kita, bukan ditangan sahabat kita, bukan ditangan anak kita, bukan ditangan suami atau istri kita. Kebahagiaan ada di tangan kita sendiri. Usaha untuk menyingkapi kebahagiaan sejati itulah yang memerlukan usaha cukup keras dan tidak mudah.
Maka, pada akhirnya pun semua kembali pada diri kita sendiri. Apakah kita sudah siap…sudah mantap…dan sudah pada waktu yang tepat untuk mengejar dan mengalami kebahagiaan diri sendiri…
Jangan berputus asa…bergerak maju, dan hiduplah pada jalan bahagia itu sendiri!
Semoga meng-inspirasi…
- am-
Recent Comments