I Really Like Monday, Itu Baru Luar Biasa!!!

20 12 2007

taken from Istockphoto.com 

“An early-morning walk is a blessing for the whole day.”
Henry David Thoreau

  

            Mungkin masih segar diingatan kita sepenggal lirik jingle iklan rokok beberapa masa lalu, yang liriknya berbunyi: I don’t like Monday, itu sudah biasa, but I really like Monday, itu baru luar biasa…Lirik yang bisa dibilang menohok kita yang selalu berkeluh kesah, tidak bersemangat bahkan mengumpat bila hari Senin tiba. Termasuk 15 orang rekan yang saya survey. Mereka mengatakan merasa tertekan bila hari Senin tiba. Teringat akan pekerjaan kantor yang menumpuk, atasan yang tidak kooperatif, keadaan kantor yang tidak kondusif, sampai masalah bisnis yang bikin otak “njelimet”.

            Ada salah seorang teman saya, ia termasuk salah seorang dalam survey saya. Bianka, adalah seorang eksekutif muda disalah satu perusahaan periklanan terkemuka di Jakarta. Ia bekerja sebagai senior account executive. Salah satu tugas utamanya adalah mengerjakan kampanye produk sejumlah klien di perusahaan tempat ia bekerja. Ia tipe seorang yang ulet bekerja, penuh dengan ide kreatif, jujur, dan termasuk tipe pekerja keras. Betapa tidak, baru setahun ia masuk di perusahaan tersebut sejak kelulusannya, ia telah dipromosikan menduduki jabatan senior di tahun keduanya.

            Tidak hanya itu saja, Bianka merupakan orang yang sangat profesional dalam bekerja. Terutama bila itu menyangkut kepuasan klien yang ditanganinya, bertolok ukur tidak saja dari hasil akhirnya, namun dari proses yang dikerjakan. Memberikan yang terbaik bagi klien dan juga bagi perusahaannya adalah misinya dalam mengerjakan setiap pekerjaan sehari-harinya.

Para klien yang ditanganinyapun senantiasa menyenangi hasil kerja Bianka yang dinilai cekatan, sabar dan selalu memberikan yang terbaik disetiap segi perkerjaannya. Sering datang pagi sebelum jam masuk kantor hingga pulang larut malam ia jalani dengan penuh semangat.

            Namun, saya sendiri tidak menyangka. Dibalik dedikasinya yang saya anggap luar biasa itu, ternyata Bianka mempunyai perasahaan “jenuh” dan sering merasa tidak bersemangat menjalani rutinitas pekerjaannya sehari-hari. Ia malah pernah mengemukakan kepada saya bahwa ia sering merasa “bête” setiap bangun di hari Senin pagi. Dan, itu bukan hanya sekedar kejenuhan semata. Selama ini ia bekerja hanyalah sekedar ingin menunjukkan dirinya bisa. Bukan karena dilakukan dengan sepenuh hati.

 “Dari bangun tidur saja, saya sudah malas membayangkan harus kembali berangkat ke kantor. Ketemu lagi kerjaan yang menyebalkan dan klien yang bikin bete!” ujarnya kepada saya suatu ketika saat kami makan siang bersama.

Terus terang, pengakuannya itu membuat saya kaget. Karena, saya pikir ia yang begitu mencintai bidang pekerjaannya dan menjalaninya setiap hari dengan semangat luar biasa, ternyata memiliki perasaaan demikian pula.

Bisa dikatakan, hari Senin merupakan permulaan mimpi buruknya. Ia dihadapkan pada keadaan dimana atasannya selalu mencari kesalahannya. Kisah dari Bianka ini mungkin dialami oleh sebagian karyawan atau bahkan Anda sendiri.

Lain lagi dengan teman dekat saya sendiri. Ia adalah seorang manager produk di perusahaan multinasional consumer goods terkemuka di Indonesia, sebut saja Sandy. Ia telah memiliki pengalaman kerja yang lumayan lama bila dibandingkan dengan Bianka yang baru seumur jagung saja. Sandy telah memiliki pengalaman kerja selama sepuluh tahun.

Tetapi yang sedikit aneh dari Sandy, ia tidak memiliki passion (semangat) yang luar biasa seperti Bianka. Ia selalu bekerja dengan santai, tanpa pernah berusaha melakukan pekerjaannya sebaik mungkin. bahkan cenderung sedikit bermalas-malasan.

Ia hanya mengerjakan pekerjaannya sesuai order saja. Dan itupun ya dengan hasil seadanya saja. Tidak tampak usaha maksimal dari dirinya untuk menghasilkan pekerjaan lebih daripada yang diekspektasikan oleh perusahaan. “Yang penting, gue terima gaji, dan tidak melakukan kesalahan, selanjutnya ya tidak perlu ngoyo-lah.” Ungkapnya santai kepada saya sambil tersenyum.

Sama seperti Bianka, Sandy juga sangat tidak menyenangi rutinitas pekerjaannya. Ia hanya menganggap itu hanyalah kewajiban yang harus dijalani untuk sekedar mendapatkan penghasilan. Malahan, Sandy sudah mulai uring-uringan bila hari telah sampai di Minggu malam. Karena ia selalu memikirkan bahwa besok ia harus kembali bangun pagi dan pergi ke kantor, lalu bertemu dengan bos yang menyebalkan, yang tinggal suruh ini dan itu sambil marah-marah.

 Setiap Senin, ia selalu lesu sepanjang hari di kantor. Alasannya simpel, yaitu ngantuk. Kerena masih kecapean ketika libur akhir pekan ia harus mengajak keluarganya berjalan-jalan menikmati liburan.

Yang kemudian muncul dibenak saya, mengapa orang-orang hebat ini, merasakan hal yang sangat tidak menyenangkan terhadap hari Senin. Bagaikan menghadapi hari buruk saja. Hanya saja perasaan “bête” muncul bahkan sebelum mereka melalui hari itu.

            Lalu bagaimana mengembalikan keceriaan dan semangat hari Senin?

Mudah saja sebenarnya. Hal-hal kecil yang sering terlupakan oleh kita sebenarnya bisa jadi jurus jitu menghindari dilema hari Senin. Yaitu:  

1. Selalu kerjakan pekerjaan Anda dengan cepat, efisien dan tepat.

  • Jangan menunda pekerjaan yang diberikan kepada Anda.
  • Pilah pekerjaan demi pekerjaan sesuai dengan tingkatannya masing-masing.
  • Dahulukan yang sifatnya urgent (sangat penting) sesegera mungkin.
  • Kemudian, tanpa membuang waktu kerjakan yang sifatnya “Penting” sesuai dengan deadline (batas waktu).
  • Untuk pekerjan yang sifatnya rutinitas biasa, hendaknya Anda memiliki jadwal rutin yang mengendalikan agar Anda tetap bisa menyelesaikannya. Misalnya setiap bulan Anda diharuskan membuat laporan bulanan keuangan perusahaan, atau, setiap bulan Anda harus melakukan proses pembuatan majalah internal perusahaan.

2. Selesaikan pekerjaan seminggu di hari Jumat. Sehingga, setiap Senin pertama Anda selalu terasa lebih ringan.

  • Biasanya orang menyebutkan bahwa hari Jumat adalah hari pendek. Maka, gunakan waktu singkat tersebut untuk mengerjakan semua pekerjaan dari pagi sampai siang hari.
  • Jangan menunda pekerjaan untuk minggu depan, terutama untuk pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya penting dan memerlukan progress cepat.

  

3. Berfikirlah positif.

  • Manage pikiran-pikiran positif dalam diri Anda, niscaya hasil yang didapatpun menjadi positif. Terutama dalam menghadapi persoalan-persoalan yang timbul di kantor.
  • Jangan biarkan pikiran-pikiran negatif dalam diri Anda mengambil alih kemudi kehidupan Anda.
  • Menurut Rhonda Byrne dalam bukunya mukjizat berfikir positif, bahwa jika kita menempatkan diri kita pada frekuensi perasaan baik, maka kita akan menerima kebaikan tesebut. Selalulah berkata pada diri anda “Saat ini saya sedang menerima semua yang baik dalam hidup saya”

4. Kelola emosi Anda dengan baik.

  • Berfikirlah secara tenang, tidak tergesa-gesa.
  • Bersikaplah bijaksana. Jadilah air es diatas bara api. Prinsip menenangkan lebih baik dibandingkan dengan luapan emosi.
  • Aturlah cara bicara dan bahasa Anda, karena ibarat pepatah mulutmu adalah harimaumu. Jangan membuat orang lain tersinggung atau sakit hati hanya karena Anda tidak menyukai hasil pekerjaannya.

Setelah mencoba menjalankan beberapa tips diatas, Bianka dan Sandy kini tidak lagi merasa suntuk menghadapi hari Senin. Selain itu, ia menemukan kekuatan ungkapan syukur yang selalu ia ucapkan di pagi hari. Syukur akan hari yang baru, dan masih diberi kesempatan untuk menjalani hari tersebut sebaik mungkin. Mereka juga lebih berani lagi untuk membuktikan pada atasannya bahkan klien-kliennya bahwa mereka mampu memberikan kontribusi lebih baik bagi kemajuan perusahaannya ataupun bagi kepuasan klien-kliennya tersebut.

Uniknya, tidak saja Bianka, Sandypun kini menyanyikan jingle iklan rokok tersebut setiap Senin pagi. Ya, mereka akhirnya menemukan intisari dari hari yang ternyata luar biasa.

Mungkin banyak diantara Anda yang merasakan hal yang sama dengan kedua teman saya tersebut. Menjalankan pekerjaan Anda sehari-hari, layaknya menjalankan suatu kewajiban semata. Atau ada pula yang menjalankannya dengan segenap hati, tapi ternyata hanya tampak luarnya saja. Dalam batinnya tetap tersiksa ketika pagi minggu pertama datang.

Mungkin kita perlu kembali berfikir sejenak sebagai seorang manusia. Bahwa, setiap kegiatan yang kita lakukan di dunia, nilainya adalah ibadah kepada pencipta kita sendiri. Hal tersebut dapat diwakili dengan menjalani sebaik mungkin dengan perasaan iklas dan gembira semua kegiatan kita, termasuk didalamnya adalah pekerjaan kita. Apapun bidang yang Anda tekuni. Terlepas apakah Anda menyenangi bidang pekerjaan tersebut ataukah Anda masih dalam proses mencari-cari yang sesuai dengan passion Anda.

Karena, walaupun Anda tidak menyenangi pekerjaan Anda saat ini, temukanlah suatu nilai didalamnya. Berusahalah menjadi yang terbaik dengan apa yang Anda lakukan. Anda pasti akan menikmatinya, walaupun tidak mungkin secara instan.

Milikilah waktu Anda sebagai pribadi setiap pagi hari. Sisihkan waktu Anda sebentar untuk mengucap syukur. Syukur akan apapun nikmat yang telah diberikan kepada Anda sekeluarga. Dan, tidak lupa syukur akan pekerjaan yang Anda lakukan saat ini.

Contoh yang berlawanan dengan sikap Bianka ataupun Sandy diatas, adalah kidah sahabat saya sejak kecil, Rika. Ia memiliki bakat dibidang seni yang luar biasa. Sejak duduk di bangku SMP, bakat tersebut telah terlihat jelas. Ia dapat melukis dengan indahnya. Ia juga berbakat dalam urusan mendesain. Sehingga ia mengambil jurusan arsitektur ketika kuliah.

Bidang yang sudah saya anggap sangat mendarah daging dengan Rika ini, ternyata tidak sesuai dengan garis hidup perjalanan karirnya. Ia justru kecemplung ke bidang consumers research. Ia bekerja di salah satu perusahaan research terkemuka.

Luar biasa sekali bukan, ia bukannya merasa tertekan menjalani hal yang benar-benar baru, apalagi sangat bertolak belakang dengan latar belakang pendidikan dan bakatnya sendiri. Ia sangatlah menikmati pekerjaan tersebut. Pernah saya penasaran, mendesaknya untuk mengaku apakah ia merasa “bête” dan mendorongnya pindah ke perusahaan berbasis desain seperti periklanan, property ataupun kontraktor atau konsultan arsitek sekalian.

Jawabannya sangat singkat dan jelas. “Ah, tidak Fra, karena apa yang sekarang gue jalani itu pasti yang terbaik. Gue sih tiap hari berdoa, dan percaya, bahwa Tuhan tidak akan memberikan yang jelek untuk gue. Sebab itu, gue seneng banget bisa kerja disini, apalagi bidangnya baru. Malah gue tertantang untuk bisa expert (ahli) disini.” Benar-benar luar biasa bukan. Bagaimana menurut Anda sendiri?

Mungkin saja ada diantara Anda yang menganggap beberapa kisah diatas, sepertinya sepele saja. Tapi bila kita melakukan perubahan untuk diri kita sendiri dengan sungguh-sungguh, dampaknya sangat mengagumkan. Hari Senin, janganlah lagi dianggap sebagai hari mulainya “ke-bete-an” hari-hari Anda.

Tetapi, perlakukanlah sebaliknya. Yakni, hari Senin merupakan hari baru, semangat baru, yang akan mencerahkan hari-hari Anda semiggu kedepan. Berjalanlah setiap Senin pagi dengan sukacita dan perasaan syukur, dan Anda tidak perlu kawatir lagi karena hari-hari selanjutnya adalah kegembiraan penuh semangat. Atasan, klien, ataupun rekan kerja yang menyebalkan, bukanlah sesuatu yang besar, sehingga dapat membuat hari Anda tidak menyenangkan. Sebab, Anda sendirilah yang menentukan kegembiraan Anda, bukan orang lain.

 Nah, kini, beranikah Anda menyanyikan jingle yang sama?  

Tips menghadapi hari Senin yang selalu bikin bete:

  1. Mulailah pagi Anda dengan ucapan syukur
  2. Kelola waktu kerja Anda dengan baik
  3. Jangan menunda pekerjaan, apalagi menumpuknya.
  4. Ciptakan dan pelihara pikiran-pikiran positif dalam diri.
  5. Tunjukkan potensi diri Anda dan terima tantangan yang diberikan.
  6. Berorientasi pada hasil “terbaik” di setiap pekerjaan yang Anda jalankan.
  7.  Bersemangatlah!

          [am]

Artikel saya ini dimuat di www.pembelajar.com tgl 16 Sept’08 dengan judul: “I dont like Monday, itu mah sudah kuno!


Actions

Information

4 responses

17 01 2008
Sammy

hmm.. setahuku, itu jingle iklan susu dewasa deh, bukan rokok.
Anyway, nice article, and nice blog…

17 01 2008
Afra Mayriani

Hi Sammy, thank you ya udah mampir ke blog-ku. Ditunggu saran dan komen-nya untuk artikel yg lainnya.
Oh ya, untuk I don’t like Monday…itu pernah dijadikan jingle rokok class mild sekitar th 2004-2005, hanya liriknya diganti menjadi I don’t like Monday itu sudah biasa, but I really like Monday itu baru luar biasa…class mild is the day… :)

Salam Sukses,
am

24 06 2008
uno

Bagus sekali artikelnya, cuma yang saya rasakan disini suasananya lain, karena saya mencari sesuap nasinya tidak di anah air, tapi di middle east, hari liburnya hari Jumat, dan sebelum sholat jumat, tidak ada aktifitas di dalam kota, semua toko tutup. aktifitas baru dimulai setelah sholat jumat, praktis weekend nya ya cuma setengah hari, hari sabtu juga masuk kerja setengah hari, hari minggu full start kerja ( seperti hari seninnya…kalo di tanah air ), hari kamis kerja setengah hari lagi…..jadi jingle nya buat kita2 yg disini gimana donk….he….he…he….
BTW, salut buat anda, salam sukses selalu.

25 06 2008
Afra Mayriani

Hai Uno, terima kasih ya sdh mampir…
Kalau untuk yg minggu buka, berarti Jingle nya tinggal diganti I really like Sunday :)

Tetap semangat!

am

Leave a comment