Menghadapi Bad Boss, siapa takut?!

20 12 2007

 Workinginpjs.org 

“Leadership is doing what is right when no one is watching.”    ~ George Van Valkenburg    

               

Seringkali secara tiba-tiba, kita dihadapkan pada keadaan yang tidak menyenangkan di tempat kerja, bahkan cenderung memojokkan diri kita. Seperti misalnya, menghadapi atasan yang sikapnya moody. Dimana, jika keadaan hatinya sedang tidak enak, ia dengan mudah mencari kesalahan-kesalahan bawahannya sendiri.           

Hal ini dialami sendiri oleh sahabat saya, Dika. Ia adalah seorang assisten produk manajer di sebuah bank terkemuka di Jakarta. Suka tantangan dan pantang menyerah merupakan salah satu sifat ke-profesionalan yang dimilikinya.

Selain itu, Dika adalah sosok kreatif dengan segudang ide-ide luar biasa. Ini berhubungan dengan tuntutan pekerjaannya, dimana ia dituntut untuk berproduktif secara kreatif dan cepat dalam menciptakan produk-produk banking terbaru yang belum pernah ada di market

Selama bekerja kurang lebih hampir tiga tahun lamanya, Dika termasuk salah satu karyawan yang memiliki prestasi kerja yang bagus. Dilihat dari penilaian prestasi kerjanya yang dilakukan dua kali dalam setahun. Nilainya selalu diatas ekpektasi perusahaan. Tetapi, itu ternyata tidak menjamin, bahwa ia bisa bersantai dan menikmati pekerjaannya saat ini. Tetap saja, ia selalu menjadi “sasaran” dari kemarahan atasannya, yang memiliki sifat moody.

Tak urung, sang bos memakinya di depan rekan kerja lainnya. Dika pernah menceritakan suatu kejadian yang membuatnya kesal. Yaitu, saat suatu ketika, atasannya itu baru kembali sehabis rapat dengan petinggi perusahaan. Ia langsung teriak memanggil Dika, dan serta merta “mengomel” tentang informasi yang tidak diketahuinya, yaitu hanya masalah kegiatan departemen marketing, yang harus di-support oleh departemennya. Padahal, informasi tersebut telah di-email oleh Dika beberapa saat lalu.  

“Dika!! kamu ini gimana sih, informasi detil tentang kegiatan peluncuran produk yang akan diadakan marketing kenapa tidak kamu laporkan ke saya? Kamu kalau kerja yang becus dong, emang ini taman bermain apa!! Liat nih, laporan dari manajemen tadi dalam rapat (sambil melempar beberapa jilidan laporan ke meja Dika), elo kan udah gue suruh kirim laporan terakhirnya, kenapa gue belum terima juga hah!!!” 

                              Cuppycake.com 

Dikapun dengan tergagap berusaha menjelaskan kepada bos-nya, bahwa ia sudah mengirimkan laporan yang diminta itu. Dan, tanpa sempat melanjutkan keterangannya, atasannya langsung pergi menuju ruangannya sambil terus menggerutu. 

Atasannya menjadi uring-uringan tidak jelas, karena ternyata, ketika rapat, ia sama sekali tidak mengetahui informasi yang dibutuhkan tersebut. Mungkin menurut Anda, apa yang dilakukan oleh atasan Dika tidaklah adil. Main marah dan menuding, tanpa mengecek terlebih dahulu keadaaan yang sebenarnya.          

Pengalaman Dika ini, diperkuat dengan kisah beberapa dari 15 rekan yang saya survey. Rata-rata pernah mengalami hal yang sama, malah ada yang lebih parah, dimaki dan diteriaki oleh atasannya di depan rekan-rekan kerjanya yang lain.

Pengalaman memiliki atasan yang menindas, memperlakukan bawahan layaknya “kacung”, kasar dengan menggunakan kata-kata yang menyakitkan di hati. Dan, mungkin masih bayak lagi.          

Saya sendiri, pernah mengalami sendiri hal yang serupa. Pernah suatu ketika, atasan saya di perusahaan sebelumnya, berteriak-teriak memarahi saya. Kejadiannya sebenarnya sedikit konyol. Saat itu, seorang rekan kerja saya, membutuhkan file pekerjaan yang sedang dikerjakan. Namun, saya sendiri tidak memiliki dokumen-dokumen yang diperlukan. Rekan saya tersebut lalu memberitahukan ke atasan saya saat itu, bahwa saya tidak memberikan apa yang dibutuhkannya untuk menyelesaikan proyek yang sedang berjalan.          

Alhasil, segera atasan saya tersebut menghampiri meja saya, serta merta memaki dan mengamuk. Ia mengatakan bahwa saya tidak dapat diajak bekerja sama, dan tidak memberikan dokumen proyek yang akan dikerjakan oleh rekan kerja saya tersebut. Padahal, kenyataannya, saya sendiri memang tidak memilikinya.          

Kaget bukan kepalang, karena seumur pengalaman kerja saya, baru sekali ini menemukan atasan yang hilang kendali terhadap emosinya sendiri. Itupun, emosi yang tidak didasari fakta yang ada.           

Tidak hanya itu saja. Pernah juga saya mendapati rekan kerja saya, dimaki di depan rekan-rekan lainnya oleh atasannya. “Bodoh banget sih kamu! Bikin laporan aja salah, gak becus, gak bisa kerja.” Maki atasannya, menjelang jam makan siang kala itu. “Kalau buat laporan itu yang detil, ter-sruktur, jadi jelas!!! Dasar tolol!!!          

Semua rekan di ruang tersebut, tiba-tiba terhenyak dari kesibukan kerja di depan komputer masing-masing. Kaget sekaligus merasa kasihan pada rekan kerja saya itu, yang sedari dimaki, hanya diam saja, mengangguk-angguk meng-iya-kan apa kata atasannya.          

Akibat dari beberapa keadaan tersebut, baik Dika, rekan kerja saya, ataupun saya sendiri menjadi frustasi. Mungkin pula, ada diantara Anda mengalami hal serupa di tempat bekerjanya saat ini. Bekerja menjadi ttidak menyenangkan, walaupun bidang yang dikerjakan adalah yang kita sukai dan sesuai dengan keinginan kita. Rasanya setiap pagi, akan malas sekali untuk berangkat kerja.  

Muncul pula ketakutan-ketakutan, bilamana atasan kita marah tiba-tiba lagi. Terutama jika sedang mengerjakan proyek-proyek besar atau penting. Bekerja penuh ketakutan tidaklah menyenangkan. Selain itu, muncul juga perasaan dihantui bahwa setiap pekerjaan yang kita kerjakan, tidak menghasilkan “result” yang bagus atau sesuai harapan perusahaan. 

Akhirnya, action akhir yang jadi pamungkasnya adalah Anda berhenti bekerja. Lalu, apakah semudah itu saja memutuskan untuk berhenti bekerja? Ada hal-hal yang harus diperhatikan agar Anda tidak gegabah mengambil keputusan.          

Menghadapi bad boss, sebenarnya gampang-gampang susah. Intinya ada pada pengenalan akan karakter atasan Anda dengan baik. Anda harus jeli menilai dan memahami karakter masing-masing atasan Anda di tempat kerja. Memang tidak semua atasan memiliki sifat moody. Tapi, jika kebetulan Anda mendapkan tipe atasan macam ini, sebaiknya Anda berhati-hati dan berusahalah kenali sifat dan karakternya secara ekstra.          

Karena, jika sudah mampu memahami karakter atasan Anda, maka Anda akan lebih taktis mengenali hal-hal apa saja, yang dapat membangkitkan amarahnya. Sehingga, Anda akan lebih siap, ketika ledakan tak terduga itu terjadi. 

Berikut adalah beberapa tips dasar dalam mengantisipasi atasan yang “sering marah-marah” tidak pada tempatnya: 

 ·        Jangan bersikap antipasti dahulu terhadap atasan Anda.

·        Kenalilah betul sifat dasar dari atasan Anda.

·        Bertemanlah dengan atasan Anda, walaupun hanya sekedarnya. Jika bisa lebih akrab, akan lebih baik.

·        Jadilah orang yang “tidak cepat merasa sakit hati”

·        Beri kesempatan atasan Anda untuk berubah. 

          

Dalam artikel yang ditulis oleh Susan M. Heathfield (www.humanresourch.com), Bad to the Bone: Dealing with a Bad Boss; Ada beberapa langkah untuk menghadapi The bad boss tersebut.

Saya hanya mengambil beberapa yang dapat diaplikasikan sesuai dengan budaya kerja masyarakat di Indonesia, yaitu: 

·        Mintalah feedback dan support dari atasan Anda untuk mencapai goal Anda kedepan.

·        Tanyakan bagaimana Anda dapat membantunya mencapai goal-nya baik sebagai pimpinan ataupun sebagai tim dengan Anda di departemen yang sama.

·        Mintalah arahan kerja kepada atasan Anda.

·        Atau, konsultasikan langsung dengan HRD, dan minta petunjuk-petunjuk akan persoalan yang sedang Anda hadapi.

·        Biarkanlah atasan bos Anda atau pihak HRD yang akan menyampaikan kepada atasan Anda langsung.

·        Bila pihak-pihak terkait tidak juga dapat membantu Anda, atau justru tidak mempercayai Anda. Maka, inilah saatnya Anda untuk mencari opportunity (kesempatan) diluar.

·        Mulailah mencari pekerjaan di tempat yang lain, tentunya dengan bijaksana melamar jenis pekerjaan. Sesuaikan dengan karakter Anda.  

Dika sendiri telah menjalani beberapa tips diatas, ia berbicara dengan atasannya langsung, perihal sikap yang sangat tidak terpuji itu. Dan, bagaimana ia merasa tertekan selama bekerja dibawah kepemimpinannya. Perasaan tertindas dan sakit hati akan kata-kata kasar yang sering dilontarkan. Sayangnya, usaha berkomunikasi dengan atasannya itu tidak membuahkan hasil.

Atasannya tidak dapat mengerti, justru merasa tersinggung dengan ungkapan apa adanya dari Dika. Segera, setelah itu, iapun menghadap ke bagian HRD. Mendiskusikan pengalaman dan perasaan bekerja yang sudah sangat tertekan. Iapun mengajukan diri untuk dipindahkan ke departemen lain. Karena jika tidak, ia terpaksa harus mengundurkan diri. 

HRD akhirnya mengabulkan permohonannya, karena dinilai Dika adalah karyawan yang cukup cakap serta profesional dalam bekerja. Iapun dipindahkan ke departemen Marketing. Tetapi, tidak demikian yang terjadi pada rekan kerja saya.

Sampai saat ini ia masih bekerja di tempat yang sama. Ia makin berusaha menyelami watak dan karakter atasannya itu. “Gue buang jauh-jauh urat kebencian gue sama dia, yang penting gue bekerja benar dan memberikan kontribusi yang bagus, so what! Ngapain gue kalah dari bos gue itu, lha gue profesional aja kerja. Cuekin aja kalo dia marah-marah gak jelas!” Kelakarnya pada saya. Jika kita menghadapi masalah yang sama dengan beberapa kasus diatas, berusahalah dahulu untuk “berperang” secara baik dan benar sebelum menyerah kalah. 

Artinya, jika kita memiliki atasan yang kurang cakap ataupun kurang baik, ujilah kemampuan Anda dengan melakukan setiap pekerjaan dengan hasil memuaskan. Berperanglah dengan keterbatasan diri Anda sendiri, seperti rasa cepat puas, rasa malas, rasa cuek dan tidak bertanggung jawab. Gantilah dengan sikap proaktif, bangun inisiatif yang tinggi, asahlah kemampuan membaca situasi Anda. Yang paling utama, janganlah memiliki perasaan dendam.

Jangan pernah memasukkan urusan pekerjaan kedalam hati. Jadi, jangan pernah takut pada bos yang punya sifat buruk (bad attitude). Kuncinya ada ditangan kita sendiri. Bekerjalah dengan sebaik mungkin, jangan pernah bekerja hanya untuk mengesankan pihak-pihak lain saja.

Namun, bekerjalah dengan sepenuh hati. Sebab, cirri-ciri pemimpin yang baik, adalah memiliki sifat tanggung jawab, memperbaiki yang salah, tanpa perlu diperhatikan oleh orang lain.  Jika atasan Anda tidak memiliki sifat kepemimpinan yang baik, maka, Andalah yang berperan dengan menjunjung tinggi sikap-sikap membangun yang profesional.

Bagaimana pendapat Anda?  

Tips untuk menghadapi bad boss di tempat kerja:

 1.     Kenalilah semua rekan kerja Anda dengan baik, terutama atasan langsung Anda.

2.     Gali lebih dalam cara kerja, prinsip profesionalisme dan goal atasan Anda.

3.     Berikan kontribusi yang berguna dan dibutuhkan oleh atasan Anda. Sehinga Anda akan dinilai sebagai pemberi support terbaik.

4.     Bicarakan secara baik-baik dengan atasan Anda, perihal perilakunya yang kurang menyenangkan.

5.     Konsultasikan dengan pihak-pihak terkait dan berpengaruh di perusahaan Anda. Misalnya dengan atasan bos Anda, atau pihak HRD langsung.

6.     Jika tidak dapat diperbaiki lagi, mulailah mencari peluang di tempat lain. Mintalah Anda di transfer ke bagian lain, atau move on (pindah) ke perusahaan lain.

7.     Bersemangatlah!

[am]


Actions

Information

3 responses

15 01 2008
tanti

artikel ini seperti melihat cermin kehidupan yang dialami oleh para staf. Bagus sekali Mbak Afra mengungkapkan. Bravo deh. Dalam menghadapi dunia kerja pasang surut pasti terjadi, tetapi pasti ada jalan terbaik yang sudah disiapkan olehNya asal kita ikhlas melaksanakannya. Saya juga mengalami kondisi ini tetapi akhirnya kita harus sadar ada saatnya kita bertahan, menyerang, kooperatif dan diam karena bagaimanapun staf sulit menang. Saatnya Anda pintar membaca situasi.

16 01 2008
Afra Mayriani

Hi Tanti, terima kasih ya sudah mampir.
Benar yg Anda bilang bahwa staf sulit menang. Karena bos, benar atau salah bisa jadi benar.
Kalau sudah tidak dapat bertahan lagi, daripada korban hati dan mental, lebih baik mulai ambil ancang2 menentukan lontaran selanjutnya. otak dan hati perlu jg lho kita re-fresh…

Salam Sukses,
am

2 04 2008
Budi Pasadena

Kalo ada meeting untuk koreksi bos dikantor kayaknya asyik tuh.. bos…
dia tambah pinter kalo di kritik dan dapat lebih maju..

mari jadi bos yang unggul

Leave a comment