istockphoto.com
“ Kerja keras bagai kuda, dicambuk dan didera…” merupakan penggalan lirik dari lagu yang dibawakan oleh band legendaris Indonesia Koes Plus. Mungkin masih segar di ingatan kita, karena lagu ini sempat dinyanyikan ulang oleh grup band papan atas Gigi. Tentu saja dengan beat yang berbeda, lebih energik dan sesuai dengan selera anak muda masa kini. Lagu ini cerminan yang sangat pas untuk diri kita yang berprofesi sebagai karyawan. Lebih tepatnya karyawan yang masih menduduki posisi sebagai bawahan. Sebagai bawahan seringkali kita tidak dianggap sebagai mitra kerja oleh atasan, namun diperlakukan hanya sebagai “kacung” saja. Hanya disuruh ini dan itu. Diperas bahkan dicuri ide-ide cemerlang kita. Sampai waktu kitapun disita untuk mengerjakan pekerjaan menumpuk di kantor. Lebih mengenaskan lagi, jika sebagai bawahan kita hanya dijadikan perpanjangan kaki dan tangan para bos saja. Kita tidak pernah dilibatkan secara langsung. Sehingga hanya nama atasan kita yang bersinar bak bintang di angkasa. Sedangkan kita tetaplah bukan siapa-siapa.
Kasus diatas tak jauh berbeda apa yang dialami oleh dua orang teman saya, Riki dan Sari. Mereka kebetulan berada dalam satu tim kerja yang sama di sebuah kantor di Jakarta. Mereka sudah bekerja di perusahaannya sekarang ini cukup lama. Sudah lebih dari 2 tahun. Kebetulan mereka berada dalam satu departemen yang sama, yakni di departemen marketing. Mereka seringkali bersama mengerjakan proyek-proyek perusahaannya.
Tetapi sangat disayangkan, mereka hanya dijadikan kaki-kaki oleh atasan mereka. Berbagai proyek penting memang mereka kerjakan. Namun, yang maju dan mendapat nama justru atasan mereka. Tidak pernah sekalipun atasan mereka melibatkan mereka dalam pertempuran di garis depan. Menjadi pemain belakang dan penjaga kandang hanyalah peranan mereka. Sudah begitu masih sering diomelin lagi. “Mau bagaimana lagi, ya memang sudah nasib kita. Kalau begini terus gimana mau menanjak karirnya”. Keluh mereka suatu hari kepada saya.
Tentunya diantara Anda ada yang mengalami persoalan yang sama dengan Riki dan Sari. Tidak merasa cukup dihargai oleh atasan Anda. Padahal Anda telah bekerja keras, mendedikasikan kemampuan diri Anda demi kemajuan perusahaan, terutama departemen Anda sendiri. Merasa bahwa apa yang sudah Anda sumbangkan untuk kemajuan perusahaan tidak berguna sama sekali untuk diri Anda. Atau bahkan ada diantara kita yang mengalami kemunduran semangat. Hal tersebut dikarenakan bahwa seringkali Anda tidak dihormati sebagai seorang profesional. Sering dibentak didepan umum, dibilang bodoh dan tidak becus. Dianggap tidak pernah mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepada Anda. Sakit hati? Sudah pasti.
Menghadapi kejadian-kejadian ini, tentunya membuat diri kita menjadi frustasi. Rasa ingin keluar kerja, pindah perusahaan atau pindah departemen akan sangat menghantui pikiran kita. Semua keinginan kita tersebut dipicu oleh kekecewaan mendalam yang kita rasakan atas perlakuan atasan kita itu. Tapi untuk pindah atau keluar tidaklah semudah yang kita bayangkan. Jika mau nekat, bisa saja langsung “cabut” atau “minggat” dari perusahaan saat itu juga. Ada hal yang harus kita pertimbangkan masak-masak. Jangan terpancing emosi sesaat, dimana bisa saja keputusan tergesa-gesa tersebut dapat saja salah langkah. Kita harus benar-benar mendapatkan tempat kerja baru yang sesuai dengan diri kita sebelum kita memutuskan resign dari kantor kita. Selain itu, jika Anda keluar sebelum Anda mendapatkan pekerjaan di tempat lain, bagaimana Anda mengisi pundi-pundi penghasilan Anda?
Kecuali Anda memiliki usaha sampingan lainnya. Salah satu trik nya bisa saja Anda mulai bergaul dengan berbagai kalangan dari departemen lain, terutama dengan orang-orang yang telah memiliki posisi tinggi. Buka hubungan baik dengan mereka. Mulailah pembicaraan seusai Anda melakukan meeting bersama. Intinya aktif bergaul di kantor juga sangat mendukung peranan Anda dan pendapat orang lain di luar departemen Anda. Bisa saja mereka justru dapat melihat potensi yang ada di dalam diri Anda ketimbang atasan Anda sendiri saat itu.
Pernah suatu hari Sari mendapatkan email dari salah seorang temannya. Email tersebut kemudian di forward kepada saya. Isinya tentang kisah seekor singa yang hidup di hutan. Singa yang telah dipercaya seluruh penduduk hutan memiliki kemampuan luar biasa. Suatu ketika, ketika sang singa sedang bersantai di bawah pohon rindang, datanglah seekor banteng. Banteng tersebut bergumam “ Waduh saya sangat membutuhkan selimut sutera yang sesuai dengan bentuk tubuhku yang besar. Juga topi yang menhangatkan kepalaku dari terpaan angin musim dingin nanti”. “Tapi siapa ya yang dapat membuatkannya untuk saya?” lanjut si banteng. Sang raja hutan ini mendengar kebingungan banteng tersebut. Serta merta si singa menyahut seraya menghampiri banteng. “Saya bisa membuatkannya untukmu. Tentunya dengan bayaran besar ya!” Si banteng sambil terheran-heran menimpali tidak percaya, “Masa sih kamu bisa? Mana mungkin?” Singapun dengan mantap menjawab “ Bisa, tunggu saja dalam seminggu pesanan kamu pasti sudah jadi”. Dan, benar saja, dalam seminggu tepat pesanan banteng sudah jadi. Bantengpun merasa kagum akan kemampuan si singa dan menyebarkan kehebatannya di segala penjuru hutan.
Menurut Anda apa yang terjadi? Benarkah singa memiliki kemampuan hebat itu? Ternyata tidak. Setelah singa mendapatkan order dari banteng, ia segera masuk ke liangnya yang tersembunyi. Disana telah berkumpul sekelompok kelinci yang selalu siap sedia mengerjakan apa yang diminta oleh sang singa. Kelinci-kelinci inilah yang dengan rajin dan ulet merajut helai demi helai benang sutera menjadi kain, baju, topi, dan barang-barang lainnya. Semua sesuai permintaan dari sang raja hutan ini.
Si singa dalam perumpamaan kisah diatas adalah gambaran dari seorang pemimpin atau atasan. Dan, kelinci-kelinci rajin dan ulet itu adalah para karyawan yang menduduki posisi sebagai bawahan. Bawahan-bawahan inilah yang dengan kemampuan luar biasanya mengerjakan setiap order dari sang pemimpin. Tetapi siapa yang mendapat kebesaran nama? Tentunya sang pemimpin. Lalu apa pembelajarannya? Saya sendiri dapat memetik makna berharga dari kisah tersebut. Yakni, kegemilangan prestasi dan nama besar dari pemimpin Anda, dihasilkan oleh peranan besar para bawahannya. Termasuk Anda sendiri. Karena Andalah yang dengan rajin, penuh semangat dan teliti mengerjakan setiap helai pekerjaan yang diberikan atasan Anda. Andalah sang kelinci-kelinci tadi. Jadi janganlah berkecil hati. Justru mulai sekarang berbangga hatilah, sebab karena potensi dan kerja keras Anda, maka atasan Anda menjadi hebat. Jangan pernah berfikir peranan Anda begitu kecil dan tidak berharga. Kebesaran hati dan semangat yang tak pernah padam pasti akan mendapat jalannya sendiri menuju pintu kesuksesan.
Demikian yang dilakukan oleh Sari. Selama setahun terakhir ini dia bisa bergaul hingga menjalin hubungan baik dengan rekan kerja termasuk atasan dari departemen lain. Justru kesempatan tidak datang dari luar perusahaan. Ia ditawari untuk pindah ke bagian penjualan dan menempati posisi yang cukup lumayan. Manajer advertising sales kedudukannya sekarang. Akhirnya, iapun dengan mantap melayangkan surat permohonan perpindahannya kepada atasannya. Setelah melewati proses diskusi dan wawancara kembali dengan pihak human resource, iapun mendapatkan ijin untuk pindah ke departemen penjualan tersebut. Seperti kelinci-kelinci cerdik yang tinggal dalam liang seorang singa tadi. Berkat kerja keras, keuletan, kemampuan dan keberanian, kelinci-kelinci itu dapat keluar dari sarang sang singa. Kebesaran hati dan semangat yang tak pernah padam pasti akan mendapat jalannya sendiri menuju pintu kesuksesan.
Bagaimana menurut Anda?
[am]
Menarik dan menyentuh! Membaca judulnya saya semakin penasaran. ternyata, Ibu Afra memahami betul keadaan lingkungan kerja. Tepat, sekali jika tulisan ini perlu dibaca oleh siapa pun yang ingin menjadi pekerja sukses dan bahagia, tanpa mengorbankan orang lain alias pekerja lain (bawahan kita misaldnya). karena menurut hemat saya, seorang bos pun termasuk pekerja. Sekali lagi, siapa pun dia, wajib membaca tulisan ini. tak lain untuk mengubah sudut pandangnya atau paradigma tentang kerja dan kerja sama!
Rusdin S. Rauf, Penulis buku SMART Heart dan Quantum Istiqamah
http://rusdin.wordpress.com
Dear Rusdin,
Terima Kasih ya sudah berkunjung ke rumah maya saya. Jg diskusi2 tgg menulis yg baik dan ok termasuk dukungannya. Ditunggu karya2 buku Anda selanjutnya.
Salam Sukses,
Afra Mayriani