Memaafkan adalah suatu hal yang sulit untuk diucapkan apalagi dilakukan. Terkadang, mulut kita telah memaafkan, akan tetapi hati kita tetap tidak dapat menerima, apakah itu bentuk sakit hati, benci ataupun kemarahan yang sangat.
Mantan penguasa negara Indonesia, Bapak Soeharto telah meninggalkan dunia yang fana ini. Beliau meninggalkan begitu banyaknya harta di gudang uangnya, yang bisa saja tidak akan habis sampai 100 keturunan. Tidak hanya itu, iapun meninggalkan segudang permasalahan yang tidak pernah tuntas, ataupun terkuak kebenarannya. Sampai saat ini, rakyat masih terlalu dibingungkan akan kebenaran kisah dan fakta apa-apa saja yang beliau telah perbuat, yang banyak orang menyebutkan telah sangat merugikan bangsa dan negara ini.
Lalu, kini apa, setelah beliau pergi untuk selamanya, tanpa ada kata maaf langsung dari mulutnya sendiri, ataupun pengakuan, penyesalah mendalam akan perbuatan-perbuatannya yang sangat disesalkan oleh orang banyak.
Kita, sebagai bangsa dan rakyat, apakah dapat memaafkan berjuta kesalahannya, dengan melihat berjuta pula kebaikannya yang telah didedikasikannya untuk bangsa ini? Semua tergantung pada hati dan diri Anda sendiri.
Hukum memang tetap harus berdiri tegak di bumi pertiwi ini, melihat begitu banyaknya pelaku korupsi dan penjahat kelas kakap tetap bisa hidup enak dan bebas lepas tanpa beban. Hukum hanya berlaku bagi kalian-kalian yang maling ayam, pencopet jalanan, perampok rumah, pembunuh amatir, dan masih banyak lagi. Lalu, dimanakah keadilan yang seimbang?
Nah, memaafkan kesalahan Pak Harto adalah bagian dalam perjalanan diri kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia yg sangat besar ini. Memaafkan dari dalam hati dan iklas untuk segala kebaikan dan kebusukan yg pernah dilakoninya sebagai ki dalang dari semua perkara tersebut.
Memaafkan bukan berarti menghentikan hukum yang seadil-adilnya berhenti bekerja. Tapi, memaafkan adalah mengeluarkan energi negatif yang terus bersarang didalam hati dan pikiran kita. Sehingga, ketika energi negatif tersebut keluar, diri kita menjadi baru, dan lega.
Ini juga berlakuk ketika kita harus dan rela melakukan kegiatan yang dinamakan “memafkan” tadi. Iklas, adalah kelegaan yang luar biasa yang dapat dirasakah oleh hati seseorang. Dimana perasaan damai akan menyelimuti diri kita dari kepala sampai kaki. Sehingga, hidup akan terasa lebih segar, lebih indah, dan lebih damai di hati. Bagaimana menurut Anda?
Jadi, apakah kita semua sudah siap memaafkan?
Selamat jalan Pak Harto, Selamat menuju alam baka, dimana segala kebaikan dan kebusukan Anda akan ditimbang secara adil oleh Yang Maha Kuasa.
[am]

Recent Comments