Dilarang Sombong

3 03 2008

           

          PRT alias pembantu rumah tangga adalah sosok yang tidak dapat terlepas dari kehidupan orang-orang sibuk di kota besar. Tidak adanya kesempatan untuk mengurus ini dan itu seorang diri, oleh karena itu jasa PRT sangatlah dibutuhkan. PRT adalah kebutuhan dasar yang tidak dapat dielakkan lagi layaknya urusan sembako.           

          Nah, untuk urusan PRT ini, kita semua tahu, bahwa sudah banyak kekerasan terjadi menimpa mereka. Mulai dari penyiksaan majikan sampai pada penahanan oleh pihak berwajib, hingga urusan para PRT di Negara lain.                           

                Tapi, kali ini saya tidak akan menyoroti masalah kekejaman yang dialami oleh para PRT. Saya akan coba mengangkat sisi lain dari seorang PRT. Sisi lain yang menurut saya pribadi sudah merupakan fenomena yang mungkin belum semua orang mengetahuinya atau justru sering mengalaminya.           

                Saat ini, ternyata para PRT, baik yang sudah ataupun baru datang dari kampong, rata-rata sudah memiliki impian besar untuk bekerja di Jakarta. Mereka sudah mengimpikan, bahkan sangat menginginkan untuk dapat bekerja dengan gaji besar (walaupun mereka sama sekali belum bisa melakukan apa2-seperti masak misalnya). Tidak hanya gaji besar saja (karena semua orang juga mau digaji besar dalam pekerjaannya), tapi mereka juga memilih tempat/lokasi majikan mereka. Tidak peduli tipe majikannya seperti apa-urusan belakangan-lah, yang penting rumah dan lokasi tempat tinggalnya harus elit.                            Misalnya saja, para PRT yang berasal dari satu yayasan penyalur tertentu, mereka memilih sekali lokasi. Mereka mau bekerja untuk orang-orang yang tinggal dikawasan elit, seperti Kota Wisata, Cibubur atau Pondok Indah, Jakarta. Walah…walah…                            

               Contoh kasus yang pernah terjadi sampai beberapa kali dialami oleh kakak ipar saya, dimana yang satu bertempat tinggal di Kota Wisata dan yang lain hanya di perumahan biasa di bilangan Pamulang. PRT yang telah dijemput dari satu yayasan di Bintaro, untuk bekerja di Pamulang, ternyata menolak, dan mengajukan diri untuk bekerja pada kakak ipar saya di Kota Wisata. Buseeettt….ternyata PRT saat ini sudah melakukan tindakan ekslusifitas. Padahal untuk ukuran sebuah perumahan di pamulang, termasuk kedalam jenis perumahan yang cukup lumayan.           

                Lain lagi dari fakta yang saya alami sendiri, ketika suatu saat PRT saya sedang pulang kampong, saya dicarikan pengganti PRT dari teman kakak ipar saya yang juga sebelumnya berlokasi di Kota Wisata, alhasil, hanya bertahan 1 minggu, tidak lebih dan tidak kurang. Si PRT ini mengajukan diri untuk kembali ke Kota Wisata, dengan banyak alasan, yang pada intinya adalah ia ingin kembali ke komunitasnya yang telah dibangun selama beberapa tahun ia bekerja disana. Komunitas? Pasti Anda bertanya-tanya. Komunitas apaan ya???           

                Ya, ternyata untuk komplek perumahan-perumahan elit, sudah tidak asing lagi, terbentuk komunitas PRT termasuk satpam, dan lain sebagainya. Tentunya komunitas ini bukan dibuat dengan SENGAJA, seperti hal-nya komunitas milis, komunitas facebook atau lain-lain yang familiar.           

                 Para PRT ini berteman, berbaur bahkan menjalin kasih antara sesama di lingkungan komplek perumahan tersebut, dimana para bos sedang pergi bekerja ataupun keluar rumah menjalankan segala bentuk bisnisnya.           

                 Dan, tinggal dikawasan elit tersebut, tidak perduli baru sebentar merasakan atau bahkan yang sudah tahunan, menjadikan terbentuknya sikap dasar baru di diri para PRT tersebut. Sikap Sombong dan merasa diri paling ekslusif. Mereka berasa memiliki kelas tersendiri bila bekerja dikawasan elit dibandingkan harus bekerja di perumahan biasa (walau gaji yang diterima sama saja).           

                Yang menjadi pemikiran saya, kenapa kok mereka menjadi tipe-tipe manusia sombong, walaupun rumah tempat mereka bekerja juga bukan milik mereka. Menurut saya itu adalah kesombongan yang tidak punya dasar apapun, bahkan mereka bisa lebih sombong dari si empunya rumah lho. Bagaimana menurut Anda?           

                 Pelajaran yang ingin saya petik dari ilustrasi kenyataan diatas adalah, sebenarnya buat apa sih “SOMBONG”?  Toh, mengutip dari perkataan teman saya, yang saya yakini juga, semua yang menempel pada diri kita adalah suatu TITIPAN. Dimana kesemuanya akan kembali kapan saya kepadaNYA yang memiliki diri kita 100%. Jika orang-orang sukses, besar, kaya raya, bilyuner, pengusaha besar – dilarang sombong, lalu kenapa (maaf) orang-orang kecil, yang rata-rata kurang pendidikannya, dan tidak memiliki kemampuan istimewa (selain pekerjaan mengepel, menyapu, mencuci, dll) bisa menjadi luar biasa sombong?

                 Mari sebagai manusia, kita hilangkan rasa sombong, apalagi yang tidak memiliki dasar apapun. Cintailah pekerjaan Anda apapun juga saat ini, karena jika kita iklas dan membangun diri secara sederhana (humble), maka kesuksesan akan mendatangi bahkan menyertai kehidupan kita selalu.

[am]


Actions

Information

11 responses

4 03 2008
Anang, yb

Hai,
Coba deh kata ‘PRT’ di tulisan Afra diganti dengan ‘karyawan’.
Coba baca ulang.
Masih pas ? Menurut saya tidak pas, Afra.
Padahal, PRT adalah juga karyawan. Sama seperti kita, citra diri seorang karyawan akan seiring dengan citra tempat dia bekerja. Itulah yang ujung-ujungnya akan menentukan apakah si karyawan itu akan menegakkan kepala dengan bangga, atau malah tertunduk menahan risih.

Bila saja saya bisa bekerja sebagai koresponden CNN di Jakarta tentu kepala saya akan lebih tegak dibandingkan bila saya sekadar bekerja di penerbit buletin kantor.

Saya pun akan lebih bangga dan ge-er bila bisa menjadi teller bank daripada menjalani profesi sebagai SPG di toko, walau gajinya setali tiga uang.

Itulah dunia pencitraan, Afra. Masyarakat akan mengharigai sejalan dangan kemampuan kita membangun dan melekatkan citra di diri kita.

Walau sejatinya saya sangat akur dengan Afra bahwa yang begituan sekadar titipan. Titipan yang malah mengungkung dan menjadi beban buat diri kita.

Tetap semangat, Afra

5 03 2008
Afra Mayriani

Terima kasih mas Anang untuk masukannya yang luar biasa :) saya setuju sekali dengan ulasan pencitraannya mas Anang diatas, hanya saja tulisan ini merupakan tulisan kenyataan yang dihadapi oleh saya sendiri yang sudah sering kali menemukan para “karyawan” rumah tangga ini sombong tidak pada tempatnya. Citra memang dibangun dari diri sendiri, tapi bukan citra dari komplek megah yang menjadikan para “karyawan” rumah tangga ini sombong & memandang rendah serta memilih2 majikan. Sebab, tak sedikit jg, mereka tidak diperlalukan baik di perumahan2 elit. anyway, saya cm prihatin saja dengan keadaan demikian kok. Kita boleh berbangga akan profesi yg dijalani, tapi itu tidak menjadi jalan “halal” untuk kita menjadi manusia sombong. Karena saat ini sudah banyak manusia yg menjadi sombong akan jabatan dan profesi yang dijalaninya.

Salam,
am

5 03 2008
Agus R

Wow… mba Afra semakin dahsyat dalam menulis…

Selamat berkarya, tetap semangat!

Salam,

Agus

13 03 2008
itsme231019

Salam.
salam kenal buat mba afra.
kenalkan saya ahmad, orang bandung. pada saat ini, saya sedang menjalan profesi sebagai tki di saudi.
saya pikir sifat sombong bisa menghinggapi siapa saja, termasuk para prt (pekerja rumah tangga). sifat sombong adalah perasaan bahwa dirinya lebih unggul dari yang lain sehingga berhak mendongakkan kepala. yang lain pun dianggap kerdil.
tapi jika melihat kasus prt yang lebih memilih bekerja di lokasi elit atau rumah elit bisa jadi didorong oleh pemikiran bahwa yang elit itu uangnya banyak dan rumah yang gede pasti pemiliknya meliki uang yang melimpah.
namun, dalam pemahaman saya, yang elit itu bisa jadi uangnya banyak tapi ekploitative. jadi lebih baik bekerja pada rumah yang sederhana tapi sikap majikannya penuh hormat dan respek.
bekerja di rumah yang megah dan besar, tentu saja mengharuskan si prt bekerja lebih banyak sehingga mudah tereksploitasi.
tapi entah kenapa kok bangsa kita banyak sekali jumlah prt-nya ketimbang jumah akademisinya. yang dikirim keluar negeri pun sektor prt lebih dominan daripada sektor akademisi. tak pelak lagi, indonesia dijuluki bangsa babu.
mentalitas inilah yang harus kita lawan.
saya pikir itu saja.
ahmad. saudi arabia

13 03 2008
Afra Mayriani

Mas Agus, thanks a lot buat support nya lho, ditunggu buku mas agus yg segera terbit ya…

Mas Ahmad, terima kasih jg dan komen yg diberikan sangat menyentuh. Saya setuju akan pemikiran Anda. Memang pr utama yg harus dikerjakan adalah bagaimana merubah mental cere seseorang menjadi mental baja yg siap berjuang dan menjalani hidup menuju kesuksesan.

Salam,
am

13 03 2008
itsme231019

Salam.
hai mba Afra, apaan itu mental cere? kalimat itu terasa baru ditelinga saya. tapi kalau kere sih, saya tahu, meskipun saya belum melihatnya dikamus indonsia. tapi kere itu setahu saya, adalah daging yang dipanaskan dibawah terik mentari sehingga akan tahan lama. makanya dikenal daging kere, terutama di daerah sunda. ada juga pengertian lain yakni kere, tidak punya apa-apa. maka saya sering mendengar, sorry saya lagi kere. mungkin artinya dari kurang secara finansial dsb. maaf, itu hanya pengalaman saya saja.
mental baja adalah mental yang kuat persis seperti baja. analogi juga dengan mental pemberani. dan dalam pandangan saya, mental baja bukan berarti bisa mengalahkan pihak lawan namun bersedia untuk mengalah dan bisa menekan dimensi kepentingan diri untuk kepentingan yang lebih mulia.
itu saja, keep moving. good posting from you.
ahmad

14 03 2008
Afra Mayriani

Mas Ahmad, yg dimaksud mental cere (baca: ce-re) adalah mental yg melempem. Belum apa-apa sudah takut, minder, merasa diri kurang, dan tidak bisa. Nah, itu dia maksudnya. “Cere” adalah sesuatu yg sifatnya kecil – saya mengambil analogi dari ikan cere saja kok dan memang tidak ada di kamus :)
Jadi, orang-orang “cere” ini yg tidak pernah mau keluar dari ke-cere-an-nya, tidak mau berusaha dengan alasan bahwa dia “Tidak Bisa”, padahal belum mencoba…mmmhhh males kan ketemu dengan orang kaya gini.
Well…thanks buat sharing-nya yg oke2 banget.

Salam Sukses dari tanah air,

am

21 03 2008
dwi setiani

haloo mbak afra……salam kenal.!
Nama ku Dwi dari Palembang. Jujur aku salut bgt ma mbak afra yg penuh dengan talenta. keren bgt deh pokoknya….
Aku tu cuma pengen sharing aja ma mbak afra….Gini, sebagai perempuan kadang kan aku suka masih main perasaaan dalam menjalani aktivitasku sebagai pelaku bisnis (walaupun masih kecil, gitu….he3x).
Nah, klo mbak sendiri gimana sih cara mengatasinya?Sekarang kan mbak afra dah married, tapi dlu waktu masih single gimana ceritanya/
Karena statusnya kan aku sekarang masih single juga, umurku 22 tahun.jadi, banyak banget deh godaannya. Tolong dong mbak kasih masukkannya

22 03 2008
Afra Mayriani

Hi Dwi..salam kenal jg. Jawabannya sudah saya email ke Anda ya. Silakan di cek dan semoga bermanfaat.

Terima kasih banyak,

Salam Sukses,
am

29 03 2008
Jennie

Rock on, girl. Sampai sekarang saya masih sering menjadi “korban” orang sombong. Juga jadi korban orang2 yang “tidak mampu melihat dengan jernih” jadi saya “diinjak2.” Kalau sudah begini, biasanya tidak saya balas, tapi hanya menjauh dan bersinar semakin terang.

Rendah hati kadang2 jadi senjata makan tuan, sebaiknya kita memang jalan sangat tegak namun tetap menjaga kedekatan di dalam hati. Ini kerendahan hati sesungguhnya.

Be blessed,
Jennie

14 12 2008
Rie Rie

Saya tak hendak memihak manapun, yang saya lihat adalah dua dasar tulisan ini. YAitu pengkastaan pekerjaan dan penyelarasan sikap.
Saya sendiri seorang PRT nun jauh di negri orang, pembantu, TKW, atau babu di Hongkong. Nama saya Rie Rie.

Sombong adalah manusiawi, lekat sekali dengan manusia entah disadari atau tidak. Ga perduli manusia itu berpredikat PRT ataupun Manager sekalipun…pastilah sedikit sombong ada melekat padanya. Pernah saya menyatakan ini pada emak saya “Mak, aku mau bar mangan burger king uenak banget, ana kejune, ana selada, daging sapi asap, saos mustard-e.(Mak, aku tadi habis makan burger enak sekali, ada kejunya, selada, daging sapi asap, saos mustardnya.
Nah, itu juga sebentuk kesombongan saya, yang saya tahu dengan persis keadaan emak saya di rumah yang hanya mampu makan seadanya, boro2 burger, telur ayam aja jarang banget kok. Kesombongan yang tidak saya sengaja…

Dan kalau kesombongan seperti perihal PRT yang mbak maksud, duh…
Seandainya semua orang tidak saling merendahkan maka barangkali kita bisa saling menghargai atau saling membantu.

Btw, maaf banget dah ikutan komen disini, salam kenal ya…!!

Salam,
Rie Rie

Leave a comment