Mari sama-sama mengambil bagian dengan mengisi petisi yang akan diserahkan ke Presiden Indonesia. Mari sama-sama kita wujudkan Indonesia yang penuh damai!
Silakan kunjungi www.peacefulindonesia.com/petition
Petisi “Menuju Indonesia Baru Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi”
“Sekitar jam 11.30, saya melihat beberapa orang di antara massa mencegat sebuah mobil dan memaksa penumpang turun, kemudian menarik dua orang gadis keluar. Mereka mulai melucuti pakaian kedua gadis itu dan memperkosanya beramai-ramai. Kedua gadis itu coba melawan sambil menjerit ketakutan, namun sia-sia,” tutur seorang saksi mata di Muara Angke, Jakarta pada tanggal 14 Mei 1998.
“Hati saya masih sangat perih. Hidup saya tak berarti, hampa. Sampai kapanpun saya tidak akan bisa melupakan peristiwa biadab yang merengut nyawa anak saya dalam Tragedi Mei 1998. Dia dituduh penjarah, padahal ia korban. Saya hendak mencari keadilan, tapi kepada siapa? Mengapa ini harus terjadi?” tutur seorang ibu korban tragedi kemanusiaan Mei 1998.
92 perempuan Indonesia etnis Tionghoa menderita kekerasan seksual, 1.338 warga Indonesia menderita kematian dini di pusat-pusat perbelanjaan umum, dan tak terhitung fasilitas pribadi dan umum rusak dalam tragedi Mei 1998 yang berlangsung di Jakarta, Surabaya, Palembang, Solo, dan Lampung.
Kekerasan dan diskriminasi, seperti Tragedi Mei 1998, telah berlangsung di pertiwi Indonesia lebih dari tiga ratus tahun. Pada tahun 1740, lebih dari 10.000 warga Nusantara etnis Tionghoa menderita kematian dini karena pembantaian dan karena kekerasan seksual terhadap para perempuannya oleh Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atas perintah Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier.
Pada tanggal 31 Oktober 1918, sebagai akibat politik adu domba rezim kolonial Belanda, ribuan massa dari Mayong, Jepara, Pati, Demak, dan sekitarnya merusak kawasan pertokoan dan pemukiman warga Nusantara etnis Tionghoa di Kudus. Ratusan warga Nusantara etnis Tionghoa menderita luka dan enam belas dari mereka menderita kematian dini.
Praktek rezim kolonial Belanda yang melibatkan massa untuk melangsungkan kekerasan terhadap kelompok masyarakat yang dikambinghitamkan sebagai ancaman diadopsi oleh rezim penguasa Indonesia pasca-kemerdekaan. Politik kambing hitam terhadap G30S (Gerakan 30 September), misalnya, menelan korban dalam rentang ratusan ribu hingga jutaan korban laki-laki dan perempuan, minoritas dan mayoritas, Muslim dan non-Muslim.
Kekerasan dan diskriminasi lainnya dalam skala yang beragam telah berlangsung karena isu-isu suku, agama, ras, dan antarbudaya. Ledakan kekerasan masih berpotensi berlangsung di masa depan jika kita membiarkan para pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan lolos dari tuntutan hukum dan jika kita menolak berbela rasa dengan para korban.
Para pendahulu bangsa Indonesia telah mengawali terciptanya Nusantara-Indonesia yang menghargai pluralitas suku, agama, ras, dan antar budaya. Mereka bahu-membahu melawan setiap bentuk perendahan kemanusiaan dalam wujud kolonialisme, kekerasan, diskriminasi rasial, dan sebagainya. Mereka mengikrarkan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.
Pada peringatan 10 tahun tragedi kemanusiaan Mei 1998, kami mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk mengusut tuntas tragedi kemanusiaan Mei 1998, dan mengadili para pelakunya.
Kami mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk menindak secara hukum individu atau kelompok yang mengeksploitasi suku, agama, ras, dan antarbudaya untuk kekerasan dan diskriminasi terhadap target korbannya.
Kami mengundang semua warga Indonesia dan warga dunia yang peduli Indonesia untuk menciptakan Indonesia baru tanpa kekerasan dan diskriminasi.
Salam,
am
Terima kasih atas dukungannya Afra, sangat kami hargai. Tuhan membalas kebaikan hati Afra dan rekan2.
Sukses dengan semua bukunya ya!
Jennie
Was there actually…
Ternyata masih ada yg care dan mengigat peristiwa ini.
Anyway, salam kenal. Sudah menerbitkan buku ya, salut deh. Ada keinginan dari dulu, tapi ga pernah sampai selesai 1 buku. Kelamaan akhirnya bosan dan sudah ingin pindah ke topik lain.
Mb Jen: Dengan senang hati membantu dan mendukung segala hal yg berbau perdamaian. Biar bagaimanapun kita harus dapat merasakan & turut memperjuangkan perdamaian dimana saja termasuk di tanah air sendiri.
Adicahya: Terima kasih untuk dukungannya jg. Salam kenal juga. Weblog nya bagus lho dan informasinya bermanfaat sampai ada info2 ttg notebook jg. Dan, selamat ya usaha kebab-nya semoga sukses ditempat yg baru.
Salam,
am
saya masih duduk di bangku sma saat peristiwa gila itu terjadi. berbondong-bondong orang menggotong barang-barang jarahan dari sejumlah kompleks pertokoan melewati pinggir-pinggir jalan. mata saya berkaca-kaca dari jok belakang ojek motor yang saya tumpangi. hari itu tak ada kendaraan umum beroperasi. hanya ojek, yang beroperasi dengan tarif yang tiba-tiba membubung tinggi. asap tebal mengepul dari kejauhan. bunyi sirene meraung-raung tanpa daya. sampai rumah, saya hubungi beberapa sahabat yang rumah dan tempat usahanya sedang diobrak-abrik massa. ada kesedihan dan ratap yang saya tangkap, walaupun tak mereka ungkap. hubungan suara lewat jaringan telepon yang tengah padat itu tak berapa lama hilang dari daya tangkap. belakangan, sejumlah kisah memilukan saya temukan. ini tragedi yang lagi-lagi terjadi. gara-gara prasangka. akibat kesalahpahaman yang merajalela. tak ada jalan lain, bangsa kita harus berani mengakui. agar pijakan buat ke depan jelas jika tujuannya jadi bangsa bertaji. bisa unjuk gigi. dapat membuktikan diri. tidak berhenti. bukan jadi basi.