Suami Gaul Istri Masygul

27 07 2009

www. tabloidnova.com – penulis: Afra Mayriani – Juli 2009

bigfuntown.com

bigfuntown.com

 

Apakah Si Dia selalu memanfaatkan isi dompet Anda untuk mendukung aktivitas “bergaulnya”? Duh, pasti sebal ya!

Rena sudah tak tahan lagi menghadapi segala tingkah laku dan kegiatan suaminya yang makin gila dugem dan selalu mengikuti lifestyle kalangan jet set. Bukan karena Rena tak suka penampilan suaminya yang metroseksual dan punya jaringan luas di dunia bergaulnya itu.

Semua biaya yang harus dikeluarkannya itu bukan berasal dari kantong suaminya, melainkan dari dompetnya. Lho, kok bisa? Ya, sebagai manager di perusahaan terkemuka, penghasilan Rena memang tergolong besar, bahkan jauh melebihi gaji suaminya.

Dan sebagai pasangan yang telah menikah lebih dari 5 tahun, berbagi dalam segala hal tentu sudah selayaknya. Termasuk urusan berbagi penghasilan. Bila Anda pernah mendengar istilah, “ Uangmu, uangku juga. Tapi uangku, ya tetap uang ku”, mungkin tak berlaku bagi Rena. Yang berlaku baginya, “Uangku adalah gaya hidupsuamiku!”

Bila menghadapi hal serupa Rena, tentulah Anda akan mulai berpikir keras, terutama bila gaya hidup suami menguras isi dompet Anda.

Apakah Anda akan terus bertahan dalam kondisi seperti ini, sedangkan dana yang dikeluarkan tadi sebenarnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih penting seperti untuk biaya sekolah Si Kecil dan masa depan?

Begitu pula Rena, yang makin lama tak bisa mentoleransi lagi kebiasan suaminya. Apalagi sang suami sering berkata di depan teman dan relasinya, segala hal yang ia punya adalah hasil kerja kerasnya, tanpa melibatkan nama istrinya sama sekali.

Hmm, hati-hati! Jangan menumpuk rasa marah dan kesal, serta menutupinya dari pasangan. Ingat, keterbukaan adalah kunci sukses dalam membangun dan mempertahankan rumah tangga yang telah dibina.

1. First Thing First!
Jangan pernah menunda merencanakan soal keuangan keluarga sejak dini. Buatlah perencanaan secara matang dan terbuka antara Anda dan pasangan. Jumlahkan pendapatan berdua tanpa harus merasa superior, karena merasa berpenghasilan tinggi dibandingkan pasangan.

Alokasikan dana secara adil dengan visi dan misi yang sama. Utamakan prioritas, misalnya masa depan, cita-cita memiliki bisnis, kebutuhan si buah hati, investasi yang bagus, dan lainnya.

Lalu, alokasikan dana sisa untuk kebutuhan tersier seperti gaya hidup, hang out time bersama rekan atau relasi, merawat diri, membeli pakaian, atau barang lain.

Komunikasikan secara terbuka agar tak ada yang merasa tersinggung. Buat pula anggaran sebulan untuk kebutuhan gaya hidupnya secara pas dan adil. Dan beri Si Dia pengertian, alokasi dana yang telah disepakati tak boleh dilanggar, hanya demi kebutuhan gaya hidupnya semata.

2. Jangan Panas Telinga
Sebagai suami, wajar bila ia punya ego dan gengsi lebih tinggi. Apalagi bila berhadapan dengan teman dan relasinya. Masak, sih, harus mengaku kehidupannya lebih banyak didukung dari dompet sang istri?

Mungkin saja itu caranya untuk menghilangkan rasa minder yang sebenarnya ada dalam dirinya. Sebagai istri yang tahu soal “dapur” keluarga dan pemilik penghasilan lebih besar, janganlah Anda cepat panas telinga bila suami sesumbar, dirinya lah yang “paling” berperan dalam segala hal.

Jangan pula dimasukkan ke hati, tanggapi saja dengan senyum. Toh, pada dasarnya, pasangan tahu betul dari siapa ia mendapatkan suntikan dana untuk mendukung penampilan dan gaya hidupnya selama ini.

3. Komunikasi Memang Penting
Jangan pernah memendam rasa sebal atau marah yang bisa berakibat menumbuhkan rasa benci di hati. Ingat, keretakan dalam segala hal ditimbulkan dari hal kecil. Bila tak dikemukakan, akan menjadi duri dalam daging, yang makin menumpuk dan tinggal menunggu meledak.

Tentu tak ingin, kan, pernikahan yang telah Anda berdua bangun, karam begitu saja? Jadi, biasakan membangun pola komunikasi yang positif bersamanya. Terutama soal uang.

Bila pengeluaran untuk gaya hidup Si Dia sudah tak terkendali, cari waktu yang tepat untuk duduk bersama dan bicarakan soal ini. Kemukakan kepadanya untuk mau mengurangi pengeluaran gaya hidupnya.

Misalnya, boleh saja bergaul dan pulang sampai larut malam, tapi jangan setiap hari. Selebihnya, minta Si Dia mengajak Anda bergaul. Bukankah ini lebih menyenangkan?

Tekankah hal ini secara bijak kepada pasangan. Bukan berarti mengekang kebebasan individualnya, tapi menanamkan ‘quality time’ yang lebih berharga bagi Anda berdua.

4. Gaya Mix & Match
Kebutuhan untuk menunjang gaya hidup memang tak sedikit. Apalagi bila punya pasangan metroseksual. Biasanya, pria tipe ini akan menghabiskan dana besar hanya untuk mendadani dirinya agar tampil menawan, dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Nah, untuk mengantisipasi bocornya dompet keluarga, terutama yang dihasilkan dari keringat Anda, jadilah “Si Kreatif” bagi sang suami. Untuk membeli baju-baju necis pasangan, bisa dikurangi dengan metode mix and match.

Lakukan ini secara kreatif, sehingga ia tak perlu berasalan untuk membeli baju baru setiap bulan. Ia bisa pakai baju-baju lamanya dengan gaya baru yang tetap mengikuti tren yang sedang berlaku.

Istilah mendaur ulang tak cuma untuk sampah lho, tapi juga untuk baju-baju dan aksesoris lama. Percayalah, Anda pasti dipuji pasangan. Kreatifitas ini dapat Anda imajinasikan dengan melihat majalah, internet, atau info lainnya.

5. Merawat Diri Bersama
Nah, kini kreatifitas Anda bisa lebih dikembangkan lagi dengan memikirkan cara menghemat pengeluaran untuk merawat diri. Jangan pusing bila Si Dia suka menghabiskan waktu di salon dan spa mahal khusus untuk kaum adam, termasuk fitnes di tempat terkemuka yang biaya per bulannya lumayan menguras kantong.

Kini saatnya berpikir untuk melakukan semuanya bersama dan lakukan di rumah. Misalnya, untuk merawat tubuh, Anda bisa mengajaknya menghabiskan waktu setiap minggu ber-spa di rumah.

Anda tinggal membeli lulur, masker wajah, krim untuk creambath, termasuk memanggil tukang pijat langganan untuk relaksasi atau refleksi, agar otot-otot yang lelah jadi berkurang dan tampil segar kembali.

Pergi ke spa atau salon bisa tetap dilakukan, hanya frekuensinya dikurangi. Misalnya 1 kali sebulan saja. Selain bisa mengurangi pengeluaran, juga menjadi lem perekat bagi Anda berdua agar makin mesra. Dan untuk olah raga, lakukan saja di tempat yang lebih murah, atau jalan/ lari pagi dan berenang bersama.

6. Bercerai? Pikir 1000 Kali!
Bila sudah tak tahan akan kelakuan pasangan, karena ia tak lagi respek kepada Anda, memang tak bisa dipungkiri rasa kesal luar biasa pasti muncul. Namun, jangan buru-buru ingin berpisah!

Ingat, masih banyak masalah lebih berat yang akan Anda alami dalam rumah tangga. Dan sebaiknya persoalan ini jangan dibesar-besarkan. Usahakan cari jalan tengah bila segala pendekatan telah gagal dilakukan.

Konsultasikan kepada pihak ketiga yang netral. Sehingga masalah yang awalnya simpel dan berubah menjadi runyam ini bisa teratasi.

Ajak kembali suami berdialog secara rendah hati dan penuh kasih. Sehingga tak ada kesalahpahaman. Bila perasaan Anda sudah penat, jangan berpikir negatif. Segala hal dapat diselesaikan secara baik dan penuh pengertian, kok.

Selamat mencoba!

[am]


Actions

Information

Leave a comment